Dari Masjid di Kabupaten Ponorogo Jawa Timur

Dari Masjid di Kabupaten Ponorogo Jawa Timur

Dari Masjid di Kabupaten Ponorogo Jawa Timur

Rizal adalah temanku di klub sepakbola, setiap ketemu dengannya tidak ada kisah lain yang diceritakan selain bicarakan tentang sepakbola. Entah bagaimana kemarin tim kita main atau nanti kita mainnya sama lawan klub mana sampai masalah tentang tebak tebakan pemain yang ada di eropa dan menceritakan tentang istri istri mereka yang sangat cantik. Saking sebelnya saya pernah suatu ketika itu, kita sedang enaknya duduk duduk di Masjid dan tiba tiba Rizal datang dan langsung ngomongin bola, langsung saja aku tinggal dia pergi nyelonong begitu saja, saki sebelnya sih. Tapi, ada seuatu yang aku suka dari dia.

Rizal ini tidak pernah marah meski sering kita ejek selain itu dia memang memiliki skill sepakbola yang mumpuni terutama soal mencetak gol ke gawang lawan dialah jagonya itu saya katakana setelah meninggalkan Rizal masih di Masjid. Dalam satu tim bersama benni dan Setiawan kita adalah pasangan yang memang tidak bisa dipisahkan, permainan kita terlalu khas untuk dilihat dimana Rizal sebagai striker tunggal di depan ditemani beni di sayap kanan dan setiawan di sayap kiri. Sedangkan aku, selalu ditempatkan dilini tengah untuk menjaga stabilitas permainan agar bola tetap mengalir dari kaki ke kaki pemain.

Kesekian kalinya, klub sekolah kita mampu memenangi pertandingan, karena memang klub kita tidak pernah untuk tidak juara di setiap pagelaran tahunan sepakbola antar sekolah di kabupaten Ponorogo itu yang terkenal dengan keindahan Masjid nya ini. untuk apalah membual jika memang sudah ada kebenarannya, apalagi jika bertemu denga kawan kawan lama kita tidak pernah meninggalkan bermain bola di sore hari, setelah selesai mengaji di Masjid kita pasti langsung berlarian sambil membawa bola untuk memainkannya di pekarangan tetangga yang mungkin luasnya hanya 20 kali 10 meter saja. Seluas itu saja sudah membuat kita senang karena bisa berolahraga mengeluarkan keringat dan membuat tubuh sehat. Kadang kala, sampai ada suara adzan dari Masjid itu adalah peluit panjang buat kita pertanda bahwa pertandingan di sore itu sudah selesai.

Tidak adanya suatu kabar dari kawan lamaku yang ternyata dia sedang asyik menikmati mainan barunya. Makanya kita tadi tidak lihat dia ikut bermain bola di pelataran rumah tetangga, ternyata dia sedang asyik bermain kelerang di depan Masjid, kami memang kecewa karena tidak ada dia membuat kurang personel, jadi tidak imbang permainannya hanya 4 lawan 5 pemain saja, tidak bisa dipungkiri ini harus diakhiri dengan cara membuat dia jengkel dan meninggalkan kelerengnya didepan Masjid. Siapa yang menyangka jika ini adalah akhir dari perjumpaan kita karena dia besoknya harus pindah ke luar pulau mengikuti tugas dari sang ayahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *